Fenomena live prank ojol semakin ramai di media sosial. Lucu, tapi ada batasnya agar tetap menghormati para driver?
Beberapa bulan terakhir, tontonan live prank ojol jadi hiburan baru di media sosial. Banyak kreator yang membuat konten lucu dengan ide kreatif, mulai dari pura-pura salah pesan makanan hingga berpura-pura tidak punya uang saat pesanan datang.
Awalnya sih, konten seperti ini terkesan ringan dan seru. Tapi semakin lama, muncul perdebatan. Sebagian penonton merasa terhibur, sementara yang lain menilai aksi seperti itu bisa merugikan driver ojek online yang hanya sedang mencari nafkah.
Mengapa Penonton Suka Live Prank Ojol?
Sekilas, live prank ojol punya daya tarik kuat. Ada campuran humor spontan, reaksi jujur dari driver, dan rasa penasaran penonton terhadap “kelanjutan ceritanya.” Orang juga suka melihat sesuatu yang tidak terduga, dan prank memang menawarkan itu.
Namun, tak semua penonton menikmati dengan alasan yang sama. Ada yang melihatnya sebagai hiburan ringan di sela kesibukan, ada juga yang tertarik karena ingin tahu bagaimana reaksi manusia ketika dikelabui secara sopan, atau kadang tidak sopan.
Di Balik Layar, Risiko Nyata Bagi Para Driver
Bagi driver ojol, ikut terlibat dalam live prank ojol sering kali bukan pilihan. Mereka tidak tahu sedang direkam live. Beberapa bahkan kehilangan waktu, bahan bakar, atau uang karena pesanan palsu.
Ada kisah seorang driver yang menempuh jarak jauh hanya untuk tahu kalau pesanannya ternyata bagian dari prank. Wajahnya bingung, antara ingin marah atau tertawa paksa. Dari sini, banyak warganet mulai sadar seperti tidak semua candaan pantas dijadikan konten.
Etika dan Batasan dalam Membuat Live Prank
Lucu boleh, asal tidak merendahkan. Prinsip itu seharusnya jadi dasar bagi konten kreator yang ingin membuat live prank ojol. Kalau tujuan utamanya sekedar menghibur, seharusnya tidak ada pihak yang dirugikan.
Misalnya, kreator bisa menyiapkan izin terlebih dahulu, memberi kompensasi kepada driver, atau menjelaskan setelah aksi selesai. Transparansi kecil seperti ini bisa menjaga suasana tetap positif dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Ketika Live Prank Jadi Konten Edukatif
Menariknya, ada juga pembuat konten live prank ojol yang menggunakan format ini untuk menyampaikan pesan moral. Misalnya, mereka berpura-pura tidak bisa membayar tapi kemudian memberi bonus besar sebagai kejutan.
Gerakan seperti ini justru mendapat banyak pujian karena memadukan humor dan kebaikan. Penonton bukan hanya tertawa, tapi juga tersentuh. Dari situlah muncul tren baru: prank yang berujung bahagia bagi semua pihak.
Kreativitas Harus Tetap Manusiawi
Live prank ojol bisa jadi hiburan segar kalau dilakukan dengan niat baik dan rasa hormat. Tapi kalau melebihi batas hingga merugikan orang lain, nilai lucunya langsung hilang. Dunia konten digital memang luas, tapi tanggung jawab sosial tetap harus ikut mengiringinya.
Sebagus apapun konsepnya, ingat orang di balik jaket ojol itu bukan karakter dalam drama. Ia manusia sungguhan yang sedang berjuang. Dan disitulah letak batas antara hiburan dan empati.

Pingback: Menjelajahi Dunia Game Rust - conniesimon