Isu THR Ojol Kembali Ramai Menjelang Akhir Tahun

Polemik THR ojol kembali mencuat. Apa sebenarnya harapan dan tantangan para driver di akhir tahun ini? Yuk kita bahas! Menjelang libur panjang, wajar kalau suasana ramai. Tapi bukan hanya mal dan tempat wisata yang padat, media sosial juga mendadak riuh oleh satu hal, THR ojol. Banyak driver ojek online menumpahkan unek-unek mereka, berharap perusahaan aplikasi […]

THR ojol

Polemik THR ojol kembali mencuat. Apa sebenarnya harapan dan tantangan para driver di akhir tahun ini? Yuk kita bahas!

Menjelang libur panjang, wajar kalau suasana ramai. Tapi bukan hanya mal dan tempat wisata yang padat, media sosial juga mendadak riuh oleh satu hal, THR ojol. Banyak driver ojek online menumpahkan unek-unek mereka, berharap perusahaan aplikasi kembali mengingat janji lama, bonus atau insentif khusus di momen akhir tahun.

Entah kenapa, tiap Desember topik ini selalu muncul. Seperti ritual tahunan. Kadang dibalas santai oleh pihak aplikasi, kadang juga malah jadi bahan sindiran antara sesama warganet. Tapi dibalik keramaian itu, terselip pertanyaan serius seperti seberapa adil sebenarnya sistem kerja mereka?

Kenapa Para Driver Menuntut THR

Kalau kita lihat dari sisi driver, mereka bukan karyawan tetap. Status mereka “mitra.” Nah, disinilah sering muncul perdebatan. Para ojol merasa mereka berkontribusi besar seperti mengantar makanan, barang, bahkan kebutuhan mendesak. Tapi di saat semua pekerja lain bersiap menerima THR, mereka justru sibuk menambal pengeluaran untuk bensin dan servis motor.

Harapan mereka sederhana kok. Bukan sekadar uang tunai besar, tapi bentuk apresiasi nyata. Bonus kecil pun bisa menambah semangat kerja setelah setahun penuh bergelut di jalanan panas dan hujan.

Bagaimana Perusahaan Ojol Menanggapinya

Beberapa perusahaan aplikasi memang punya kebijakan tahunan yang mirip THR ojol, meskipun tidak disebut secara resmi begitu. Biasanya berupa “insentif akhir tahun” yang jumlahnya tergantung performa driver. Namun, banyak yang bilang sistem itu kurang transparan. Ada yang merasa nilainya tidak sebanding dengan kerja keras mereka, apalagi kalau orderan sedang sepi.

Perusahaan beralasan bahwa mereka bukan pemberi kerja dalam arti formal. Tapi masyarakat mulai menilai, di era kolaborasi digital seperti sekarang, batas antara karyawan dan mitra semakin kabur.

Dampak Isu Ini bagi Citra Aplikasi

Setiap kali isu THR ojol muncul, warganet langsung ramai mendesak tanggapan resmi. Ada yang membela driver, ada juga yang menilai tuntutan itu berlebihan. Namun dari sisi manajemen reputasi, isu semacam ini bisa berdampak besar. Perusahaan yang dianggap “abaikan mitra” bisa kehilangan simpati publik.

Sementara itu, kompetitor yang lebih terbuka atau memberi apresiasi lebih justru cenderung mendapat dukungan. Sederhana saja, masyarakat suka melihat keadilan dan empati dalam bisnis.

Suara Warganet dan Dukungan Sosial

Lucunya, di tengah panasnya perdebatan, banyak pengguna aplikasi ikut bersuara. Ada pelanggan yang sengaja memberi tip lebih saat akhir tahun, atau membuat unggahan untuk mengingatkan pentingnya THR ojol bagi kesejahteraan driver. Gerakan kecil semacam ini justru sering lebih bergaung dibanding pernyataan resmi.

Beberapa komunitas ojol bahkan menggalang solidaritas sesama pengemudi. Mereka tak menunggu perusahaan, tapi saling bantu antar-driver agar tetap semangat bekerja menjelang tahun baru.

Harapan untuk Tahun Berikutnya

Isu THR ojol mungkin akan terus muncul sampai ada kejelasan sistem yang lebih adil. Idealnya, pemerintah, perusahaan, dan perwakilan driver duduk bersama membicarakan mekanisme yang masuk akal. Bukan hanya soal uang, tapi juga soal penghargaan dan rasa layak sebagai pekerja lapangan yang berjasa menggerakkan ekonomi harian.

Akhir tahun mestinya jadi waktu untuk bersyukur dan berbagi, bukan sekadar perdebatan soal status. Semoga di masa depan, penghargaan bagi para driver tidak berhenti di kata “mitra”, tapi juga terwujud dalam bentuk nyata seperti sebuah apresiasi yang setara.

1 thought on “Isu THR Ojol Kembali Ramai Menjelang Akhir Tahun”

  1. Pingback: Bertahan Hidup di The Forest - gyrotonicsatnam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top